*

*

Ads

Senin, 03 Juli 2017

Mata Air Senjoyo


Umbul atau mata air Senjaya (Senjoyo), salah seorang ibu pemilik salah satu warung yang memang ada beberapa warung yang berjulan di dalam lokasi menyebutnya malah Bumi Perkemahan Senjoyo. adalah salah satu objek wisata kuno yang berlokasi di Kota Salatiga. Pengunjung selain dapat melepas penat, berendam, berenang, ataupun sekadar bermain air, bagi petualang bisa juga ber-camping ria.

Fasilitas yang disediakan selain kolam dengan air yang menyegarkan, juga terdapat arena bermain anak-anak dan juga lokasi outbond maupun camping.  Pihak pengelola juga menyediakan tempat parkir luas, musala, toilet, dan juga penginapan.

Disini terdapat tujuh umbul atau mata air yang dianggap penting oleh masyarakat, yakni Sendang Slamet, Sendang Bandung, Sendang Teguh, Sendang Lanang, Sendang Putri, Tuk Sewu, dan Umbul Senjoyo. Ketujuh mata air itu memiliki air jernih yang sangat melimpah.

Kini air dari objek wisata itu juga dimanfaatkan untuk keperluan lain seperti irigasi. Selain itu, juga dimanfaatkan oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Salatiga.

Sejak jaman Belanda, mata air Senjoyo sudah dimanfaatkan menjadi sumber utama jaringan PDAM Kota Salatiga. Berbeda dengan kota-kota lainnya yang harus mengolah air terlebih dulu, untuk sumber air Senjoyo langsung disalurkan ke konsumen karena memang sudah jernih.

Dari pusat kota, menuju lokasi hanya sekitar 10 menit (menggunakan kendaraan bermotor). Jarak tempuhnya berkisar 5 kilo meter berada di sebelah selatan Salatiga. Jalannya relatif mulus dan suasananya adem karena lokasinya banyak didapati pohon-pohon ukuran raksasa. Tepatnya Lokasi tempat wisata yang cukup menarik ini terletak di Jl. Senjoyo, Gendongan, Tingkir, Kota Salatiga, Jawa Tengah.






Mitos & Tradisi
Ada ritual unik yang banyak dilakukan orang yaitu ritual kungkum. Salah satu warga yg telah berusia lanjut menuturkan.

“Perihal ritual kungkum, hal tersebut merupakan tradisi turun temurun. Dimana, pada malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon, banyak orang yang memiliki keinginan tertentu, selalu rajin berendam di kolam semalam suntuk. Disini hanya sarana, berdoanya tetap ditujukan pada Allah. Soal percaya atau tidak ya monggo kerso (silahkan),” ungkapnya.

Mata air Sendang Senjoyo memang fenomenal, konon, lokasi ini di jaman Kesultanan Pajang, Mas Karebet atau lebih dikenal dengan sebutan Joko Tingkir sebelum bertahta sempat bertapa disini. Ia melakukan ritual kungkum pada malam-malam tertentu, hingga akhirnya mampu menjadi penguasa di Kesultanan Pajang dan bergelar Sultan Hadiwijoyo.

Legenda keberadaan Joko Tingkir memang lekat di benak masyarakat, sebab, terdapat beberapa kemiripan. Diantaranya, desa yang bersebelahan dengan Sendang Senjoyo mempunyai nama Desa Tingkir.

Sepak terjang Joko Tingkir memang mengagumkan, konon saat ia tengah melakukan ritual. Air yang sebelumnya tenang, tiba-tiba bergolak menyemburkan jutaan kubik air yang mampu mengancam keselamatan warga Salatiga.

Bila dibiarkan, Kota Salatiga dan wilayah di sekitarnya bakal didera musibah banjir. Joko Tingkir langsung bertindak. Ia memotong rambutnya yang gondrong, potongan rambutnya itu segera dipergunakan untuk menyumbat mata air hingga bencana banjir urung terjadi.

“Selain menyumbat, rambut Joko Tingkir juga berfungsi menjadi penyaring (filter) bagi air yang keluar. Makanya, air Senjoyo sangat jernih,” kata warga yang tinggal tak jauh dari lokasi.

Tempat wisata ini kesan pertama memang terasa sakral. Banyak pohon-pohon raksasa yang memayungi tanah di bawahnya. Disini, sebenarnya terdapat puluhan mata air, namun yang dianggap penting terdiri atas Sendang Slamet, Sendang Teguh, Sendang Bandung, Sendang Lanang, Sendang Putri, Tuk Sewu dan Umbul Senjoyo. Semuanya mengalirkan air yang sangat jernih.

Diareal umbul senjoyo ini terdapat dua makam keramat, yakni makam Ki Ageng Slamet dan Nyai Welas Asih. Keduanya diyakini merupakan Sultan Hadiwijoyo serta istrinya yang sengaja berdiam disini setelah lengser keprabon atau usai tak menjabat sebagai penguasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar